Buat Para Teman Seperjuangan (My Chemistry)

graduation

Karena permintaan seorang teman, akhirnya saya mencoba menulis dan mengepos tulisan ini. Mungkin bagi sebagian orang postingan ini kurang penting, namun, saya berharap postingan saya ini dapat membantu teman-teman yang belum mengetahui bagaimanakan alur pendaftaran wisuda FKIP UNS terutama Prodi Kimia.

Karena memang administrasi yang sangat banyak, jadi saya mencoba untuk memberikan beberapa langkah agar teman2 semua bisa lebih efektif dan efisien ketika mendaftar (atau malah mengejar) wisuda. Tentu saja kita semua ingin segera masuk portal, ya kan? Bisa mengikuti wisuda periode terdekat, ya kan?

File2 bisa didownload di bawah :)

Sebelumnya, saya mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang di sini. Terimakasih.

Credit pic : http://2.bp.blogspot.com/

DOWNLOAD:

ALUR WISUDA

Form SKL

Untuk Cover Map Bendel

LEMBAR REVISI SETELAH UJIAN SKRIPSI

 

Posted in PENDIDIKAN | Tagged , , , , | Leave a comment

MATERI ORG CHEM 4

KULIAH BU WIDI AGUSTINA

materi silakan didonlot di bawah ini :

NMR (SBI)

Posted in organik | Leave a comment

TUGAS KIM BUMI ANTARIKSA

TUGAS DARI PAK ASHADI

Ketentuan:

  1. Masing-masing kelompok maks 10 orang
  2. Buat summary terjemahan maks 4 halaman kwarto, 1,5 spasi , time new roman 12.

Tanggal 2 Nop UK2

Tanggal 9 Nop dst presentasi. Makalah dikumpulkan tanggal 9 Nop (seluruh kelompok)

Urutan presentasi dilotre sendiri. Siapkan power point.

MATERI 

 

Continue reading

Posted in MY CHEMISTRY | Tagged | 2 Comments

Pembuatan Pasta Gigi

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PRAKARYA KIMIA

  1. Judul

Pembuatan Pasta Gigi

  1. Tujuan

-       Membuat obat gosok gigi berbentuk pasta

-       Mengetahui proses-proses dan tahapan dalam pembuatan pasta gigi

  1.  Teori

Pasta gigi adalah sejenis pasta yang digunakan untuk membersihkan gigi, biasanya dengan sikat gigi. Di Indonesia, pasta gigi sering juga disebut Odol, yaitu salah satu merek pasta gigi. Walaupun merek ini sudah berpuluh-puluh tahun tidak lagi dijual di Indonesia, nama Odol telah menjadi nama generik. Odol pertama kali diproduksi di Jerman oleh Dresden chemical laboratory Lingner, yang sekarang dikenal sebagai Lingner Werke AG pada tahun 1892 sebagai cairan pencuci mulut/mouthwash. Odol moutwash pada tahun 1900 an adalah merk ternama dan yang paling luas penggunaannya di hampir seluruh daratan Eropa.

Karl August Lingner

Karl August Lingner adalah orang yang menciptakan Odol moutwash dan dia adalah orang yang giat mengampanyekan Hidup Higienis. Dia juga dikenal sebagai orang pertama yang mengadakan International Hygiene Exhibition pada tahun 1911. Dia mendirikan museum The German Hygyene Museum di Dresden.

Di setiap harinya kita tak bisa lepas dari kegiatan menggosok gigi dengan menggunakan sikat gigi dan pasta gigi. Kegiatan gosok gigi sebaiknya dilakukan sebanyak 2-3 kali sehari, terutama dilakukan sehabis makan. Pernahkah anda dalam sehari saja tidak menggosok gigi? Karena sesuatu hal, penulis pernah sesekali dalam sehari tidak menggosok gigi, sehingga akibatnya mulut terasa tidak nyaman dan canggung bicara jarak dekat dengan seseorang karena kuwatir bau mulut.

Ketika digunakan untuk sikat gigi, pasta gigi yang baik harus memenuhi sifat-sifat:

1. Dapat menghilangkan partikel-partikel asing, sisa makanan yang menempel pada gigi, plak atau karang gigi, dan dapat membersihkan gigi.

2. Haruslah tidak bersifat toksik, memiliki rasa yang menyenagkan dan setelah menggunakan terasa segar dimulut.

Bahan baku pasta gigi tersusun atas :

1. Bahan polishing ( penggosok), merupakan salah satu bahan terpenting untuk menghilangkan partikel-partikel sisa makanan yang menempel pada gigi. Bahan yang sering digunakan diantaranya Aluminium fosfat.

2. Bahan foaming ( pembusa ), berfungsi untuk membantu aksi bahan polishig dengan membasahi gigi dan partikel makanan yang tertinggal pada gigi dan juga berfungsi mengemulsikan lendir dimulut. Bahan pembusa yang digunakan SLS ( sodium lauryl sulfonate ) dengan nama dagang texapon, emal dll.

3. Bahan moistener ( pelembab ), berfungsi untuk mencegah pengeringan dan pengerasan pada pasta gigi. Bahan yang sering digunakan diantaranya Gliserin , Propylene glikol dll.

4. Bahan pengikat, berfungsi untuk mencegah terjadinya pemisahan bahan pada pasta gigi. Bahan yang digunakan diantaranya sodium alginat.

5. Bahan pemanis, berfungsi untuk menberikan rasa manis pada pasta gigi. Bahan yang digunakan diantaranya sakarin.

6. Bahan pemberi rasa, berfungsi untuk memberikan aroma dan rasa pada pasta dan menghindari rasa eneg atau mual. Disamping itu juga untuk menambah kesegaran pasta gigi. Bahan yang digunakan minyak peppermint.

7. Bahan pengawet, berfungsi untuk menjaga struktur fisik, kimiawi dan biologi pasta gigi. Bahan ini haruslah tidak bersifat toksik. Bahan pengawet yang digunakan sodium benzoat.

8. Bahan flouride, merupakan salah satu zat yang berfungsi untuk pertumbuhan dan kesehatan gigi, melapisi struktur gigi dan ketahanannya terhadap proses pambusukan serta pemicu mineralisasi. flournya memberikan efek deterjen dan unsur kimianya mengeraskan lapisan email gigi. Flouride yang banyak digunakan adalah salah satunya sodium flouride ( NaF ). Pemberian flouride untuk pasta gigi dianjurkan 0,05% – 0,08%, karena kelebihan pemberian flouride akan mengakibatkan merusak kesehatan. Penulis menganjurkan dalam pembuatan pasta gigi tanpa flouride sih tak apa-apa.

  1. Sabun Obat

Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat bantu mencuci atau membersihkan.

Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80–100 °C melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Secara tradisional, alkali yang digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari pembakaran tumbuhan, atau dari arang kayu. Sabun dapat dibuat pula dari minyak tumbuhan, seperti minyak zaitun.

  1. Gliserin

Gliserin dengan rantai HO-CH2-CH-(OH)-CH2-OH adalah produk samping dari reaksi hidrolisis antara minyak nabati dengan air untuk menghasilkan asam lemak. Gliserin berbentuk cairan jernih, tidak berbau dan memiliki rasa manis.

           gliserin
Gliserin merupakan humektan yang biasa dipakai untuk kosmetik (hand and body lotion, cream pelembab dll), untuk bahan dasar pembuatan sabun dan juga merupakan bahan utama untuk pasta gigi. Fungsinya adalah untuk mengikat air/pelembab sehingga cream selalu basah dan tidak cepat mengering di udara bebas. Pemakaian gliserin relative aman untuk kulit. Di daerah sejuk/di daerah gunung bila bibir dan cuping hidung pecah pecah dan berdarah. Kulit ari mengkerut hebat kedinginan. Balurkan saja gliserin ini di kulit yang pecah.
Gliserin biasanya dihasilkan dari industri lilin atau industri sabun komersial.
Pada industri sabun komersial, karena gliserin mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi dibanding dengan nilai sabun itu sendiri maka gliserin yang dihasilkan dari pembuatan sabun diekstrak atau dipisah untuk dijual atau dipakai dalam pembuatan lotion atau produk kosmetik lainnya. Itulah sebabnya jika mandi dengan sabun biasa maka kulit kita menjadi kering.
Gliserin dan dietilen glikol mempunyai struktur dan sifat yang mirip, sehingga pada beberapa produk kosmetik buatan China dietilen glikol disalahgunakan sebagai pengganti gliserin. Padahal dietilen glikol mempunyai efek racun apabila ditelan oleh manusia.

  1. Minyak Peppermint

Rasa semriwing serta harum peppermint yang menyegarkan dalam produk Jamu Madu Habbats Arofah berasal dari tanaman Mentha x piperita.  Tanaman ini sudah digunakan sejak jaman Mesir, Yunani dan Romawi sebagai pengobat, terutama untuk mengobati flu, batuk dan untuk membantu pencernaan.  Tak hanya sebatas flu dan batuk, peppermint oil juga digunakan untuk mengatasi sakit kepala, mual mual, kram dan sakit di sendi.

Harum dan rasa semriwing membuat peppermint oil diduga memiliki khasiat kesehatan.  Kandungan terbesar minyak peppermint adalah menthol dan menthone. Menurut  University of  Michigan Health System, tanaman peppermint merupakan carminative herb. Carminative herb merupakan herba herba yang memiliki kemampuan untuk mencegah dan mengeluarkan gas yang berlebihan di dalam tubuh.

Karena kandungan menthol dan menthone, kegunaan utama peppermint adalah sebagai pelancar, terutama yang berkaitan dengan pencernaan seperti gangguan pencernaan akut. Peppermint oil membantu merelaksasi otot otot pencernaan pada saat kram perut atau pada gangguan pencernaan yang sudah akut. Walaupun utamanya peppermint terkenal sebagai pereda masalah pencernaan, bukan berarti peppermint tidak bisa digunakan untuk masalah kesehatan lainnya.  Ternyata peppermint pun dapat digunakan untuk kesehatan gigi dan gusi sebagai pencegah infeksi penyebab bau mulut, mengobati infeksi akut oleh khamir Candida, mengobati sembelit,  mengatasi mau mulut, batuk, flu, muntah muntah pada ibu hamil, sakit kepala dan penenang.

Sejauh ini konsumsi peppermint oil tidak membahayakan, namun peppermint oil tidak boleh dikonsumsi dalam keadaan tanpa campuran.  Jamu Madu Habbats Arofah merupakan produk yang mengandung minyak peppermint yang dicampur dengan sari kurma, minyak zaitun, madu, minyak habbatus sauda dan sari jahe. Campuran peppermint oil dan bahan lainnya dalam produk ini membuat Jamu Madu Habbats Arofah memiliki rasa yang  unik, namun penuh manfaat.

  1. CaCO3

Kalsium karbonat adalah senyawa kimia dengan rumus kimia Ca C O 3. Ini adalah zat yang umum ditemukan di batuan di semua bagian dunia, dan merupakan komponen utama dari cangkang organisme laut , siput , mutiara , dan kulit telur . Kalsium karbonat adalah bahan aktif dalam kapur pertanian , dan biasanya merupakan penyebab utama air keras . Hal ini biasanya digunakan medicinally sebagai kalsium suplemen atau sebagai antasida , namun konsumsi yang berlebihan dapat membahayakan

  1. Gula

Adanya gula akan menurunkan aktivitas air dalam bahan pangan karena gula bersifat higroskopis. Menurut Winarno (1997), selama pemanasan sebagian sukrosa akan terurai menjadi gula invert (glukosa dan fruktosa). Gula berperan dalam proses dehidrasi yang membuat ikatan hidrogen pada pektin menjadi lebih kuat dan membentuk jaringan polisakarida, yaitu kompleks dimana air terperangkap dalam jaringan tersebut. Kekurangan gula akan membentuk gel yang kurang kuat pada semua tingkat keasaman sehingga membutuhkan lebih banyak asam untuk menguatkan strukturnya. Gula tidak ditambahkan di awal karena adanya pemanasan akan menyebabkan terjadinya browning karena waktu pemasakan terlalu lama. Gula yang digunakan adalah sukrosa. Sukrosa akan memberikan rasa manis dan juga berfungsi sebagai pengawet karena dalam konsentrasi tinggi dapat menghambat pertumbuhan mikroba.

  1. Alat dan Bahan

Alat:

No. Nama alat Gambar Jumlah
1 Gelas ukur

1 buah

2 Kompor

1 buah

3 Gelas beker

1 buah

4 Wadah tube

1 buah

5 Sendok

1 buah

6 Pengaduk

1 buah

7 Telenan

1 buah

   8 Kantung plastik 6 buah
9 Gunting 1 buah
10 Timbangan 1 buah
11 Mortar dan alu 1 buah

Bahan

No. Nama bahan Jumlah
1 Sabun obat 7,5 gram
2 Gula 10 gram
3 CaCO3 25 gram
4 Gliserin 10 ml
5 Minyak peppermint secukupnya
6 Air 10 ml
  1. Cara Kerja
    1. Menimbang sabun obat sebanyak 7,5 gram dan memotongnya kecil-kecil
  1. Memanaskan air sekitar 10 ml
  1. Menambahkan potongan sabun obat ke dalamnya dan membiarkan sampai meleleh
  1. Memasukkan gula 10 gram
  1. Memasukkan CaCO3 ke dalam gliserin dan mengaduknya
  1. Menuangkan larutan gula + sabun obat ke campuran CaCO3 dan gliserin
  1. Mengaduknya
  1. Menambahkan minyak pepermin
  1. Mengaduk terus sampai menjadi pasta
  1. Masukkan ke wadah tube
  1. Data Pengamatan
NO PERLAKUAN PENGAMATAN
1. Memotong sabun obat kecil-kecil Sabun obat berwarna hijau agak transparan, padat, dan lembek

Massa 7,5 gram

2. Memanaskan air sebanyak 10 ml
3. Memasukkan potongan sabun obat ke dalam air dan melelehkan Sabun mulai meleleh dan bercampur dengan air menjadi koloid yang berwarna hijau dan berbusa di bagian atasnya
4. Menambahkan gula 10 gram Busa menjadi hilang dan warna larutan menjadi kuning
5. Memasukkan CaCO3 ke dalam gliserin 10 ml CaCO3 berwarna putih dan berupa serbuk halus, bercampur dengan gliserin menjadi kental dengan penambahan CaCO3 terus pada gliserin maka menjadi gumpalan yang tidak rata
6. Menuang larutan sabun obat je dalam campuran gliserin dan CaCO3 menambahkan minyak peppermint

Mengaduk

Membentuk pasta yang berwarna putih
7. Memasukkan pasta dalam tube Caranya: memasukkan pasta dalam plastik, melubangi pucuk plastik, memasukkan ke dalam tube pasta gigi

Menutup tube

VII.Hasil Pembahasan dan Foto Produk

Foto produk :

Pada percobaan ini bertujuan untuk membuat pasta gigi dengan bahan sabun obat dan bahan tambahan lainnya. pasta gigi merupakan suatu obat gosok gigi yang fungsinya untuk membersihkan gigi dari kotoran, sisa makanan dan juga plak-plak yang menempel pada gigi.

Fungsi dan kegunaan dari pasta gigi bermacam-macam yaitu seperti berikut:

1. Pasta gigi adalah bahan bantu yang dipakai untuk membersihkan permukaan gigi, sehingga kemungkinan terjadinya karies gigi dan penyakit gusi bisa ditekan/dikurangi.
2. Pasta gigi digunakan dengan sikat gigi dan memberikan kesegaran nafas, kebersihan gigi dan mulut, di samping untuk fungsi kosmetik.
3. Fungsi pasta adalah melepaskan materia alba, plak, sisa makanan, stain, tanpa merusak gigi dan mukosa mulut
4. Pasta terdiri dari campuran bahan; penggosok, pembersih, dan campuran semi padat.
5. Pasta gigi tersedia dalam bentuk pasta, bubuk, dan gel, tetapi yang paling dominan adalah bentuk pasta.
6. Pasta gigi tidak bisa dan bukan obat untuk menghilangkan sakit gigi maupun menambal gigi.

Pada percobaan ini, bahan yang digunakan dalam membuat pasta gigi antara lain adalah sabun obat, gula, CaCO3, gliserin dan minyak peppermint.

Percobaan ini mula-mula diawali dengan memanaskan air sekitar 10 ml dalam gelas beker, air yang digunakan sangat sedikit karena air ini hanya digunakan untuk melarutkan sabun saja. Kemudian sabun obat yang berwarna hijau sebanyak 7,5 gram dipotong kecil-kecil kemudian dimasukkan ke dalam air yang sudah mendidih ini. Ditunggu sampai sabun obat meleleh sehingga menjadi suatu koloid berwarna hijau dan ada busa di atas. Kemudian setelah mengaduk larutana sabun ini, kemudian menambahkan gula pasir sebanyak 10 gram. Ketika gula ditambahkan, maka busa pada larutan sabun menjadi hilang dan warna larutan yang semula hijau menjadi kuning karena tambahan dari gula pasir ini.

Di samping itu, saat melakukan pemanasan pada sabun obat, CaCO3 dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam gliserin 10 ml, kemudian mengaduknya. Di sini perbandingan gliserin dan CaCO3 sangatlah jauh sehingga CaCO3 tidak akan larut dalam gliserin. Kemudian, setelah itu, campuran CaCO3 ini kemudian dimasukkan ke dalam larutan sabun dan gula kemudian diaduk terus hingga membentuk pasta yang tidak padat juga tidak encer. Setelah itu memasukkan pasta ke dalam tube dengan menggunakan plastik yang dipotong ujungnya.

Pada percobaan ini, fungsi zat adalah:

  1. Air : untuk melarutkan bahan
  2. Sabun obat: sebagai bahan utama di mana nantinya akan menjadi bahan yang menimbulkan busa sehingga dapat mengangkat kotoran
  3. Gliserin : sebagai pelembab
  4. CaCO3 : memberikan unsur kalsium pada pasta sehingga dapat menguatkan gigi
  5. Minyak peppermint: sebagai pemberi aroma segar dan menghilangkan rasa eneg
  6. Gula: memberikan rasa manis

Bahan-bahan yang terkandung dalam pasta gigi adalah berikut:

1. Bahan polishing ( penggosok), merupakan salah satu bahan terpenting untuk menghilangkan partikel-partikel sisa makanan yang menempel pada gigi. Bahan yang sering digunakan diantaranya Aluminium fosfat.

2. Bahan foaming ( pembusa ), berfungsi untuk membantu aksi bahan polishig dengan membasahi gigi dan partikel makanan yang tertinggal pada gigi dan juga berfungsi mengemulsikan lendir dimulut. Bahan pembusa yang digunakan SLS ( sodium lauryl sulfonate ) dengan nama dagang texapon, emal dll.

3. Bahan moistener ( pelembab ), berfungsi untuk mencegah pengeringan dan pengerasan pada pasta gigi. Bahan yang sering digunakan diantaranya Gliserin , Propylene glikol dll.

4. Bahan pengikat, berfungsi untuk mencegah terjadinya pemisahan bahan pada pasta gigi. Bahan yang digunakan diantaranya sodium alginat.

5. Bahan pemanis, berfungsi untuk menberikan rasa manis pada pasta gigi. Bahan yang digunakan diantaranya sakarin.

6. Bahan pemberi rasa, berfungsi untuk memberikan aroma dan rasa pada pasta dan menghindari rasa eneg atau mual. Disamping itu juga untuk menambah kesegaran pasta gigi. Bahan yang digunakan minyak peppermint.

7. Bahan pengawet, berfungsi untuk menjaga struktur fisik, kimiawi dan biologi pasta gigi. Bahan ini haruslah tidak bersifat toksik. Bahan pengawet yang digunakan sodium benzoat.

8. Bahan flouride, merupakan salah satu zat yang berfungsi untuk pertumbuhan dan kesehatan gigi, melapisi struktur gigi dan ketahanannya terhadap proses pambusukan serta pemicu mineralisasi. flournya memberikan efek deterjen dan unsur kimianya mengeraskan lapisan email gigi. Flouride yang banyak digunakan adalah salah satunya sodium flouride ( NaF ). Pemberian flouride untuk pasta gigi dianjurkan 0,05% – 0,08%, karena kelebihan pemberian flouride akan mengakibatkan merusak kesehatan. Penulis menganjurkan dalam pembuatan pasta gigi tanpa flouride sih tak apa-apa.

Ciri-ciri pasta gigi yang baik:

  1. Mengandung banyak fluoride, kecuali untuk anak batita, banyak fluoride justru tidak baik
  2. Tidakn banyak berbusa
  3.    Ketika digunakan untuk sikat gigi, dapat menghilangkan partikel-partikel asing, substansi makanan, plak dan membersihkan gigi
  4.    Haruslah tidak bersifat toksik, memiliki rasa yang menyenangkan dan meninggalkan mulut dalam keadaan segar setelah penggunaannya
  1. Pertanyaan
  2. Komposisi gliserin dalam pasta gigi seharusnya adalah 15-20 % dari massa pasta gigi
  3. Agar adik (anak-anak) mau menggosok gigi adalah

1. Libatkan anak saat membeli sikat dan pasta gigi kesukaannya.
Sesuaikan ukuran sikat dengan ukuran rongga mulut anak.

2. Carilah pasta gigi yang aman buat anak. Banyak pasta gigi dengan
rasa buah-buahan, yang mengandung bahan yang aman jika tertelan si kecil.

3. Agar anak bisa melihat dirinya saat menggosok gigi, pasang cermin di
kamar mandi.

4. Siapkan segelas air hangat untuk berkumur-kumur. Ada beberapa anak
yang cepat merasa ngilu dengan air dingin.

  1. Desain leaflet

terlampir

  1. Analisis Kelayakan Usaha

Analisis kelayakan usaha:

  1. Tempe Kedelai
  • CaCO3                                    Rp      500,00
  • Air                                           Rp      500,00
  • Gliserin                                    Rp      500,00
  • Minyak peppermint                 Rp      500,00
  • Sabun obat                              Rp      500,00
  • Gula                                        Rp      500,00
  • Plastik                                     Rp    1.000,00
  • Listrik                                     Rp    1.000,00
  • Leaflet dan label 10                Rp    2.500,00
  • Penyusutan                              Rp       500,00
  • Bea produksi                           Rp    8.000,00

Dari produk  menjadi 2 tube, jadi harga tiap tube adalah

Rp 8.000,00 / 2 = Rp 4.000,00

Mengambil laba Rp 500,00 sehingga harga jual tiap bungkus adalah Rp4.500,00

Jadi harga jual 2 bungkus adalah 2 X Rp 4.500,00 = Rp 9.000,00

Maka laba dari 2 tube pasta gigi

Rp 9.000,00 – Rp 8.000,00 = Rp 1.000,00

% laba = (Rp1.000,00 / Rp 8.000,00) X 100% =  12,5%

  1. Desain Leaflet

Terlampir

  1. Kesimpulan
    1. Pasta gigi adalah sejenis pasta yang digunakan untuk membersihkan gigi, biasanya dengan sikat gigi
    2. Pada percobaan ini pasta gigi dibuat dengan bahan sebagai berikut:
      1. Sabun obat
      2. Gliserin
      3. CaCO3
      4. Minyak peppermint
      5. Gula pasir
      6. Metode umum membuat pasta gigi

Agen pengikat didispersikan ke dalam moistener.

Deterjen dimasukkan ke dalamnya secara perlahan-lahan untuk menghindari kesulitan akibat berlimpahnya busa

Air dan pengawet dimasukkan ke dalam campuran.

Pemanis dan agen polishing dicampurkan ke dalamnya dan diaduk dengan segera sampai pasta menjadi lembut.

Flavour dimasukkan ke dalamnya.

  1. Pasta gigi yang baik adalah
    1. Mengandung banyak fluoride, kecuali untuk anak batita, banyak fluoride justru tidak baik
    2. Tidakn banyak berbusa
    3. Ketika digunakan untuk sikat gigi, dapat menghilangkan partikel-partikel asing, substansi makanan, plak dan membersihkan gigi
    4. Haruslah tidak bersifat toksik, memiliki rasa yang menyenangkan dan meninggalkan mulut dalam keadaan segar setelah penggunaannya
    5. Fungsi bahan-bahan:
      1. Air : untuk melarutkan bahan
      2. Sabun obat: sebagai bahan utama di mana nantinya akan menjadi bahan yang menimbulkan busa sehingga dapat mengangkat kotoran
      3. Gliserin : sebagai pelembab
      4. CaCO3 : memberikan unsur kalsium pada pasta sehingga dapat menguatkan gigi
      5. Minyak peppermint: sebagai pemberi aroma segar dan menghilangkan rasa eneg
      6. Gula: memberikan rasa manis

XII.Daftar Pustaka

CuIlison, E.A. 1978. Feeds and Feeding. Prentice Hall of India Private Limited. New Dehli.

Duyvestijin. 1973. Kimia Sederhana. Bandung : Bina Cipta.

Kus, Sri Martini, Dra dan Sri Retno Dwi A. 2011. Petunjuk Praktikum Prakarya Kimia. Surakarta : UNS Press

Linder, Maria C. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Jakarta : UI Press.

Winarno, F.G.1984. “Kimia Pangan dan Gizi”. Gramedia; Jakarta.

  1. Lampiran

1 lembar laporan sementara

1 lembar desain leaflet

Mengetahui,                                                                Surakarta, 18 April  2011

Asisten                                                                        Praktikan

Kelompok 1

( Anita, Anisa, Farid, Desi )

Posted in Prakarya Kimia, PRAKTIKUM | 2 Comments

Pengawetan Buah dalam Botol (salak)

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PRAKARYA KIMIA

  1. Judul

Pengawetan Buah-Buahan dalam Botol (Buah Salak)

  1. Tujuan

Dapat mengawetkan buah-buahan (buah salak) dengan jalan merendamnya dalam larutan gula yang diberi asam sitrat

  1. Teori
    1. Latar Belakang

Bahan makanan terdiri atas 4 komponen utama yaitu air, karbohidrat, protein dan lemak. Bahan makanan ini ada yang tahan lama ada juga yang tidak (cepat mengalami kerusakan).  Penyebab utama kerusakan bahan pangan dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: pertumbuhan dan aktivitas mikroba terutama bakteri, ragi dan kapang, aktivitas enzim-enzim di dalam bahan pangan; serangga, parasit, tikus, suhu termasuk suhu pemanasan dan pendinginan, kadar air, udara terutama oksigen, sinar dan jangka waktu penyimpanan. (Kus Sri Martini dan Sri Retno D.A., 2011, hal 11)

Tanda-tanda kerusakan yang terjadi pada bahan makanan adalah seprti:

  1. Pememaran, pelunakan dan pembusukan
  2. Pelendiran
  3. Perubahan bau, rasa dan warna
  4. Penggumpalan

Bahan makanan dapat mengalami kerusakan secara kimiawi, mikrobiologis, dan enzimatis (Kus Sri Martini dan Sri Retno D.A., 2011, hal 13)

Untuk mencegah terjadinya kerusakan ini maka dilakukan suatu pengawetan dengan cara menambahkan zat pengawet ke dalam bahan makanan  dan diberi perlakuan khusus.

Kehilangan mutu dan kerusakan pangan disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 1). pertumbuhan mikroba yang menggunakan pangan sebagai substrat untuk memproduksi toksin didalam pangan; 2). katabolisme dan pelayuan (senescence) yaitu proses pemecahan dan pematangan yang dikatalisis enzim indigenus; 3). reaksi kimia antar komponen pangan dan/atau bahan-bahan lainnya dalam lingkungan penyimpanan; 4). kerusakan fisik oleh faktor lingkungan (kondisi proses maupun penyimpanan) dan 5). kontaminasi serangga, parasit dan tikus. Agar dapat berjalan, setiap reaksi kimiawi dan enzimatis membutuhkan kondisi lingkungan yang optimum (misalnya suhu, pH, konsentrasi garam, ketersediaan air, kofaktor dan faktor lainnya). Sebagai contoh, mikroorganisme memerlukan semua kondisi yang optimum untuk berlangsungnya reaksi kimiawi dan enzimatis, dan juga membutuhkan karbon, sumber nitrogen, beragam mineral, dan ada atau tidak ada oksigen (aerobik/anaero-bik), beberapa vitamin dan sebagainya.

(http://id.shvoong.com/exact-sciences/1799732-prinsip-pengawetan-pangan/)

Pada percobaan kali ini maka akan dilakukan pengawetan buah salak dengan zat pengawet asam sitrat.

  1. Deskripsi Bahan
    1. Salak

Salak adalah sejenis palma dengan buah yang biasa dimakan. Ia dikenal juga sebagai sala (Min., Mak., Bug., dan Thai). Dalam bahasa Inggris disebut salak atau snake fruit, sementara nama ilmiahnya adalah Salacca zalacca. Buah ini disebut snake fruit karena kulitnya mirip dengan sisik ular.

Klasifikasi:

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae
Genus: Salacca
Spesies:                                                                                                     S. Zalacca

Palma berbentuk perdu atau hampir tidak berbatang, berduri banyak, melata dan beranak banyak, tumbuh menjadi rumpun yang rapat dan kuat. Batang menjalar di bawah atau di atas tanah, membentuk rimpang, sering bercabang, diameter 10-15 cm.

Daun majemuk menyirip, panjang 3-7 m; tangkai daun, pelepah dan anak daun berduri panjang, tipis dan banyak, warna duri kelabu sampai kehitaman. Anak daun berbentuk lanset dengan ujung meruncing, berukuran sampai 8 x 85 cm, sisi bawah keputihan oleh lapisan lilin.

Kebanyakan berumah dua (dioesis), karangan bunga terletak dalam tongkol majemuk yang muncul di ketiak daun, bertangkai, mula-mula tertutup oleh seludang, yang belakangan mengering dan mengurai menjadi serupa serabut. Tongkol bunga jantan 50-100 cm panjangnya, terdiri atas 4-12 bulir silindris yang masing-masing panjangnya antara 7-15 cm, dengan banyak bunga kemerahan terletak di ketiak sisik-sisik yang tersusun rapat. Tongkol bunga betina 20-30 cm, bertangkai panjang, terdiri atas 1-3 bulir yang panjangnya mencapai 10 cm.

Buah tipe buah batu berbentuk segitiga agak bulat atau bulat telur terbalik, runcing di pangkalnya dan membulat di ujungnya, panjang 2,5-10 cm, terbungkus oleh sisik-sisik berwarna kuning coklat sampai coklat merah mengkilap yang tersusun seperti genting, dengan banyak duri kecil yang mudah putus di ujung masing-masing sisik. Dinding buah tengah (sarkotesta) tebal berdaging, kuning krem sampai keputihan; berasa manis, masam, atau sepat. Biji 1-3 butir, coklat hingga kehitaman, keras, 2-3 cm panjangnya.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Salak).

Manisan buah salak merupakan salah satu komoditas yang menarik untuk dikembangkan. Kualitas manisan buah salak berhubungan erat dengan bahan tambahan yang digunakan, cara pengolahan, dan lama penyimpanan.

Menurut Desrosier (1988) dan Soetanto (1996) prinsip pembuatan manisan adalah proses peresapan larutan gula sampai kadar gula di dalam bahan pangan cukup tinggi. Kadar gula demikian akan menghasilkan tekanan osmotis yang tinggi. Beberapa jenis kapang dan khamir toleran terhadap tekanan osmotis tinggi, sebaliknya bakteri kurang toleran (Winarno dkk., 1980; Weiser, 1962).

Dengan demikian, kapang dan khamir merupakan pencemar utama manisan buah.

  1. Asam Sitrat

Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan. Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus asam sitrat yang terjadi di dalam mitokondria, yang penting dalam metabolisme makhluk hidup. Zat ini juga dapat digunakan sebagai zat pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai antioksidan.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_sitrat)

Asam sitrat terdapat pada berbagai jenis buah dan sayuran, namun ditemukan pada konsentrasi tinggi, yang dapat mencapai 8% bobot kering, pada jeruk lemon dan limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk purut).

Rumus kimia asam sitrat adalah C6H8O7 (strukturnya ditunjukkan pada tabel informasi di sebelah kanan). Struktur asam ini tercermin pada nama IUPAC-nya, asam 2-hidroksi-1,2,3-propanatrikarboksilat

.

Penggunaan utama asam sitrat saat ini adalah sebagai zat pemberi cita rasa dan pengawet makanan dan minuman, terutama minuman ringan. Kode asam sitrat sebagai zat aditif makanan (E number ) adalah E330. Garam sitrat dengan berbagai jenis logam digunakan untuk menyediakan logam tersebut (sebagai bentuk biologis) dalam banyak suplemen makanan. Sifat sitrat sebagai larutan penyangga digunakan sebagai pengendali pH dalam larutan pembersih dalam rumah tangga dan obat-obatan.

Kemampuan asam sitrat untuk meng-kelat logam menjadikannya berguna sebagai bahan sabun dan deterjen. Dengan meng-kelat logam pada air sadah, asam sitrat memungkinkan sabun dan deterjen membentuk busa dan berfungsi dengan baik tanpa penambahan zat penghilang kesadahan. Demikian pula, asam sitrat digunakan untuk memulihkan bahan penukar ion yang digunakan pada alat penghilang kesadahan dengan menghilangkan ion-ion logam yang terakumulasi pada bahan penukar ion tersebut sebagai kompleks sitrat.

Asam sitrat digunakan di dalam industri bioteknologi dan obat-obatan untuk melapisi (passivate) pipa mesin dalam proses kemurnian tinggi sebagai ganti asam nitrat, karena asam nitrat dapat menjadi zat berbahaya setelah digunakan untuk keperluan tersebut, sementara asam sitrat tidak.

Asam sitrat dapat pula ditambahkan pada es krim untuk menjaga terpisahnya gelembung-gelembung lemak.

Dalam resep makanan, asam sitrat dapat digunakan sebagai pengganti sari jeruk.

  1. Gula

Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana, seperti glukosa (yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam), menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Gula)

  1. Alat dan Bahan

Alat:

Nama Gambar Jumlah
pisau 1
Botol plastik 1
Sendok 1
Saringan 1
Botol + tutup 1
Kompor listrik 1
Panci email 1
Sterilisator 1
Pengaduk kayu 1
Mangkuk 1

Bahan

Nama Gambar Jumlah
Salak 2 buah
Air mineral 400 cc
Gula pasir 1 ons
Asam sitrat Satu pucuk sendok
  1. Cara Kerja
    1. Menyiapkan buah salak
  1. Mengupas buah salak dan mencucinya sampai bersih
  1. Memotong buah sampai besar tertentu
  1. Menyiapkan botol kaca
  1. Memasukkan buah ke dalam botol dan ditata secara rapi
  1. Menuangkan larutan gula yang telah dibuat dalam keadaan panas ke dalam botol yang berisi buah salak
  1. Menuang sampai penuh dan menutup botol
  1. Melakukan sterilisasi botol dan isinya
  1. Produk sudah selesai dibuat dan memberi label

Membuat larutan gula:

  1. Memanaskan air mineral dalam panci teflon sampai mendidih
  1. Memasukkan gula pasir ke dalam panci
  1. Mengaduk sampai gula larut dalam air
  1. Memasukkan asam sitrat ke dalam larutan gula
  1. Data Pengamatan
NO PERLAKUAN PENGAMATAN
1. Buah salak dikupas, dicuci dan dipotong Warna buah putih, bentuk potongan memanjangRasa manis
2. Botol dicuci dan disterilkan Jelas,
3. Membuat larutan gula dengan mencampurkan gula dan asam sitrat ke dalam air yang sudah panas Warna larutan agak kuning coklatRasa manis agak asam
4. Memasukkan buah ke dalam botol Sampai agak penuh
5. Menuangkan larutan gula ke dalam botol yang berisi salak Warna buah agak kuning, warna larutan gula kekuningan, buah melayang pada larutan gula
6. Botol ditutup dan disterilisasi lagi Botol menjadi lebih steril
7. Buah disimpan selama 3 hari Buah salak berubah menjadi lebih kuning, aroma menyengat dan rasa lebih manis.

VII.Hasil Pembahasan dan Foto Produk

Pada percobaan kali ini adalah bertujuan untuk mengawetkan buah salak dalam botol yaitu dengan cara merendamnya dalam larutan gula yang diberi asam sitrat sebagai pengawet.

Kehilangan mutu dan kerusakan pangan disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. pertumbuhan mikroba yang menggunakan pangan sebagai substrat untuk memproduksi toksin didalam pangan.
  2. katabolisme dan pelayuan (senescence) yaitu proses pemecahan dan pematangan yang dikatalisis enzim indigenus
  3. reaksi kimia antar komponen pangan dan/atau bahan-bahan lainnya dalam lingkungan penyimpanan
  4. kerusakan fisik oleh faktor lingkungan (kondisi proses maupun penyimpanan)
  5. Kontaminasi dari bakteri
    Untuk mengontrol kerusakan kita harus membuat kondisi yang dapat menghambat terjadinya reaksi yang tidak dikehendaki. Prinsip pengawetan pangan ada tiga, yaitu:
  6. Mencegah atau memperlambat kerusakan mikrobial
  7. Mencegah atau memperlambat laju proses dekomposisi (autolisis) bahan pangan
  8. Mencegah kerusakan yang disebabkan oleh faktor lingkungan termasuk serangan           hama.

Mencegah atau memperlambat kerusakan mikrobial dapat dilakukan dengan cara:

 mencegah masuknya mikroorganisme (bekerja dengan aseptis)

 mengeluarkan mikroorganisme, misalnya dengan proses filtrasi

 menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme, misalnya dengan penggunaan suhu rendah, pengeringan, penggunaan kondisi anaerobik atau penggunaan pengawet kimia

 membunuh mikroorganisme, misalnya dengan sterilisasi atau radiasi.

Prinsip kerja percobaan kali ini adalah mula-mula dengan cara mengupas terlebih dahulu buah salak, lalu mencucinya bersih dan memotongnya sampai ukuran tertentu. Setelah itu kemudian memasukkan buah yang telah dipotong-potong ini ke dalam botol yang telah disterilisasi dalam suatu dandang. Sterilisasi wadah ini dilakukan untuk menghilangkan botol dari berbagai senyawa dan juga kotoran-kotoran, karena adanya senyawa-senyawa maupun kotoran ini dapat mempengaruhi pengawetan buah di dalamnya. Setelah itu, kita membuat larutan gula dengan cara memanaskan sekitar 400 cc air mineral sampai mendidih lalu memasukkan sekitar 0,25 gram gula pasir dan sepucuk sendok asam sitrat. Setelah mendidih lalu memasukkan larutan gula ini dalam keadaan panas ke dalam botol yang telah berisi buah salak tadi sampai penuh. Kemudian botol ini ditutup rapat dan botol disterilisasi lagi.

Pengawetan buah ini dilakukan karena buah dapat mengalami kebusukan yaitu terjadi peristiwa tumbuhnya atau aktivasi mikroba (misalnya bakteri, ragi, kapang, dsb) , enzim dalam buah (bahan makanan), serangga, dan juga perubahan suhu yang tidak sesuai dengan sinar matahari dan juga permasalahan waktu (misalnya saat pengimporan).

Pada percobaan ini, pengawetan dilakukan dengan menambahkan larutan gula yang sudah diberi asam sitrat. Di samping itu juga dilakukan sterilisasi botol karena botol yang digunakan harus benar-benar bersih dari berbagai mikroorganisme atau mikroba. Asam sitrat di sini digunakan sebagai pengawetnya, asam sitrat di sini merupakan bahan organik selain asam laktat dan asam asetat.

Pada pengawetan buah dalam botol ini digunakan larutan gula yang dibuat dari air mineral, gula dan juga asam sitrat. Takaran larutan gula untuk buah yang berbeda juga berbeda. Contoh untuk buah mangga, takaran untuk larutan gula adalah 1 liter air, 1 kg gula pasir dan 8 gram asam sitrat. Untuk buah rambutan 1 liter air, 0,25 kg gula pasir, dan 8 gram asam sitrat. Untuk nangka 1 liter air, 1 kg gula pasir dan 5 gram asam sitrat. Untuk buah nanas 1 liter air, 0,25 kg gula pasir dan 4 gram asam sitrat. Pada pembuatan larutan gula untuk buah salak ini digunakan sekitar

Pada percobaan kali ini botol harus disterilisasi terlebih dahulu, tujuannya dengan memasukkan botol ke dalam dandang sabruk yang diisi air sedikit di bawah angsangnya. Pada pengawetan ini digunakan botol yang terbuat dari kaca sebagai wadah buah salak yang akan diawetkan dan tutup tidak dari plastik. Hal ini dikarenakan botol kaca tidak pecah saat dilakukan sterilisasi dan juga tidak mudah bereaksi dengan zat-zat kimia yang ditambahkan. Selain itu juga tidak bereaksi saat dilakukan pemanasan dan juga bahan kaca tidak mudah berkarat atau kotor, transparan sehingga isi dapat dilihat isinya dari luar dan juga dapat menarik.

Perubahan yang terjadi pada percobaan adalah pada saat sebelum pengawetan, warna buah salak adalalah putih kekuningan dan rasanya manis. Setelah penyimpanan selama 3 hari (percobaan dilakukan hari Senin dan disimpan sampai Kamis) buah salak berubah menjadi lebih kuning, aroma menyengat dan rasa lebih manis.

Foto produk:

Pembuatan sari buah ini kurang berhasil karena pada saat penilaian (hari kamis) ternyata pada isi ditemukan gelembung dan larutan berbau menyengat. Ini dimungkinkan adanya bakteri yang tumbuh selama masa penyimpanan. Hal ini terjadi kemungkinan karena:

  1. Botol kurang steril
  2. Pada saat penutupan botol ada udara masuk dan membawa bibit bakteri
  3. Pemanasan (pasteurisasi) yang kurang sesuai
  4. Proses pembuatan yang kurang higienis
  5. Pertanyaan
    1. Keuntungan pemakaian botol :

-          Tidak mudah pecah saat sterilisasi

-          Tidak mudah bereaksi dengan zat kimia yang ditambahkan dan juga saat pemanasan

-          Transparan

-          Tidak mudah berkarat (kotor)

-          Tidak mudah bereaksi dengan udara luar (tertutup)

-          Menarik dan mudah dilihat

  1. Buah salak berwarna putih kekuningan, melayang dalam larutan gula,tidak ada endapan, aroma menyengat, rasa buah salak lebih manis dan rada asam.
  2. Analisis kelayakan usaha (di bawah)
  3. Desain leaflet (terlampir)
  1. Analisis Kelayakan Usaha

Analisis dana:

Buah salak 2 buah                                                            Rp  2.000,00

Gula pasir 1 ons                                                               Rp  1.000,00

Asam sitrat                                                                       Rp  1.000,00

Air mineral                                                                       Rp  1.500,00

Botol                                                                                Rp  1.000,00

Label + leaflet                                                                  Rp   2.000,00

Total                                                                                 Rp  8.500,00

Rencana dijual 1 botol     Rp 10.000,00

Laba: Rp 10.000,00 – Rp 8.500,00 = Rp 1.500,00

% laba : Rp 1.500 x 100% = 15%

Rp 10.000

Nilai di atas adalah untuk satu botol manisan buah salak.

  1. Desain Leaflet

Terlampir

  1. Kesimpulan
    1. Buah salak dapat diawetkan dengan cara merendamnya dalam larutan gula yang telah diberi asam sitrat
    2. Di sini asam sitrat berfungsi sebagai pengawet
    3. Botol untuk wadah buah digunakan kaca karena botol kaca tidak pecah saat dilakukan sterilisasi dan juga tidak mudah bereaksi dengan zat-zat kimia yang ditambahkan. Selain itu juga tidak bereaksi saat dilakukan pemanasan dan juga bahan kaca tidak mudah berkarat atau kotor, transparan sehingga isi dapat dilihat isinya dari luar dan juga dapat menarik.
    4. Tujuan pengawetan adalah bahan makanan tidak cepat membusuk atau rusak akibat dari mikroorganisme.
    5. Buah salak yang telah diawetkan selama 3 hari maka akan terjadi perubahan yaitu buah salak berubah menjadi lebih kuning, aroma menyengat dan rasa lebih manis.
    6. Untuk biaya produksi rata-rata 1 botol manisan adalah Rp 8.500,00 kemudian dijual sebesar Rp 10.000,00 sehingga laba yang diperoleh adalah sebesar Rp 1.500,00 yaitu 15%.

XII.Daftar Pustaka

Kus, Sri Martini, Dra dan Sri Retno Dwi A. 2011. Petunjuk Praktikum Prakarya Kimia. Surakarta : UNS Press.

Weiser, H.H. 1962. Practical Food Microbiology and Technology. Ohio: The Avi Publishing Co. Inc.

Winarno, F.G., S. Fardiaz dan D. Fardiaz. 1980. Pengantar Teknologi Pangan I. Jakarta: Penerbit Gramedia.

http://id.shvoong.com/exact-sciences/1799732-prinsip-pengawetan-pangan/ (diakses tanggal 12 Maret 2011 pukul 14.00)

http://id.wikipedia.org/wiki/Salak (diakses tanggal 12 Maret 2011 pukul 14.00)

http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_sitrat (diakses tanggal 12 Maret 2011 pukul 14.00)

http://id.wikipedia.org/wiki/Gula (diakses tanggal 12 Maret 2011 pukul 14.00)

  1. Lampiran

1 lembar laporan sementara

1 lembar desain leaflet

1 lembar foto produk dan desain label

Mengetahui,                                                                Surakarta, 12 Maret 2011

Asisten                                                                        Praktikan

Kelompok 1

( Anita, Anisa, Farid, Desi )

Posted in Prakarya Kimia, PRAKTIKUM, Uncategorized | Leave a comment

SEMINAR ILMIAH LAUNCING UKM

gratisssss

Posted in PENDIDIKAN, Uncategorized | Leave a comment

VITAMIN

CHAPTER I

INTRODUCTION

 

A vitamin is an organic compound required as a nutrient in tiny amounts by an organism.[1] In other words, an organic chemical compound (or related set of compounds) is called a vitamin when it cannot be synthesized in sufficient quantities by an organism, and must be obtained from the diet. Thus, the term is conditional both on the circumstances and the particular organism. For example, ascorbic acid (vitamin C) is a vitamin for humans, but not for most other animals, and biotin and vitamin D are required in the human diet only in certain circumstances. By convention, the term vitamin does not include other essential nutrients such as dietary minerals , essential fatty acids or essential amino acids (which are needed in larger amounts than vitamins), nor does it encompass the large number of other nutrients that promote health, but are otherwise required less often.[2] Thirteen vitamins are presently universally recognized.

Vitamins are classified by their biological and chemical activity, not their structure. Thus, each “vitamin” refers to a number of vitamer compounds that all show the biological activity associated with a particular vitamin. Such a set of chemicals are grouped under an alphabetized vitamin “generic descriptor” title, such as “vitamin A“, which includes the compounds retinal, retinol, and four known carotenoids. Vitamers by definition are convertible to the active form of the vitamin in the body, and are sometimes inter-convertible to one another, as well.

 

HISTORY

In 1749, the Scottish surgeon James Lind discovered that citrus foods helped prevent scurvy, a particularly deadly disease in which collagen is not properly formed, causing poor wound healing, bleeding of the gums, severe pain, and death.[5] In 1753, Lind published his Treatise on the Scurvy, which recommended using lemons and limes to avoid scurvy, which was adopted by the British Royal Navy. This led to the nickname Limey for sailors of that organization. Lind’s discovery, however, was not widely accepted by individuals in the Royal Navy’s Arctic expeditions in the 19th century, where it was widely believed that scurvy could be prevented by practicing good hygiene, regular exercise, and by maintaining the morale of the crew while on board, rather than by a diet of fresh food.[5] As a result, Arctic expeditions continued to be plagued by scurvy and other deficiency diseases. In the early 20th century, when Robert Falcon Scott made his two expeditions to the Antarctic, the prevailing medical theory was that scurvy was caused by “tainted” canned food.[5]

During the late 18th and early 19th centuries, the use of deprivation studies allowed scientists to isolate and identify a number of vitamins. Initially, lipid from fish oil was used to cure rickets in rats, and the fat-soluble nutrient was called “antirachitic A”. Thus, the first “vitamin” bioactivity ever isolated, which cured rickets, was initially called “vitamin A”, although confusingly the bioactivity of this compound is now called vitamin D.[7] In 1881, Russian surgeon Nikolai Lunin studied the effects of scurvy while at the University of Tartu in present-day Estonia.[8] He fed mice an artificial mixture of all the separate constituents of milk known at that time, namely the proteins, fats, carbohydrates, and salts. The mice that received only the individual constituents died, while the mice fed by milk itself developed normally. He made a conclusion that “a natural food such as milk must therefore contain, besides these known principal ingredients, small quantities of unknown substances essential to life.”[8] However, his conclusions were rejected by other researchers when they were unable to reproduce his results. One difference was that he had used table sugar (sucrose), while other researchers had used milk sugar (lactose) that still contained small amounts of vitamin B.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER II

EXPLANATION

There’re 13 vitamins that can we find in nature.

 

Table. Kinds of vitamins and time be discovered

 

A.  VITAMIN A (RETINOL)

Vitamin A is a vitamin that is needed by the retina of the eye in the form of a specific metabolite, the light-absorbing molecule retinal, that is absolutely necessary for both scotopic and color vision. Vitamin A also functions in a very different role, as an irreversibly oxidized form of retinol known as retinoic acid, which is an important hormone-like growth factor for epithelial and other cells.

Vitamin A can be found in two principal forms in foods:

  • retinol, the form of vitamin A absorbed when eating animal food sources, is a yellow, fat-soluble substance. Since the pure alcohol form is unstable, the vitamin is found in tissues in a form of retinyl ester. It is also commercially produced and administered as esters such as retinyl acetate or palmitate.
  • The carotenes alpha-carotene, beta-carotene, gamma-carotene; and the xanthophyll beta-cryptoxanthin (all of which contain beta-ionone rings), but no other carotenoids, function as vitamin A in herbivores and omnivore animals, which possess the enzyme required to convert these compounds to retinal. In general, carnivores are poor converters of ionine-containg carotenoids, and pure carnivores such as cats and ferrets lack beta-carotene 15,15′-monooxygenase and cannot convert any carotenoids to retinal (resulting in none of the carotenoids being forms of vitamin A for these species).

 

retinol structure

 

B.  VITAMIN B1 (THIAMINE)

Thiamine or thiamin or vitamin B1 (pronounced /ˈθaɪ.əmɨn/ THYE-ə-min), and named as the “thio-vitamine” (“sulfur-containing vitamin”) is a water-soluble vitamin of the B complex. First named aneurin for the detrimental neurological effects of its lack in the diet, it was eventually assigned the generic descriptor name vitamin B1. Its phosphate derivatives are involved in many cellular processes. The best-characterized form is thiamine pyrophosphate (TPP), a coenzyme in the catabolism of sugars and amino acids. In yeast, TPP is also required in the first step of alcoholic fermentation.

All living organisms use thiamine in their biochemistry, but it is synthesized in bacteria, fungi, and plants. Animals must obtain it from their diet, and, thus, for them it is a vitamin. Insufficient intake in birds produces a characteristic polyneuritis, and in mammals results in a disease called beriberi affecting the peripheral nervous system (polyneuritis) and/or the cardiovascular system, with fatal outcome if not cured by thiamine administration.[1] In less severe deficiency, nonspecific signs include malaise, weight loss, irritability and confusion.[2]

There is still much work devoted to elucidating the exact mechanisms by which thiamine deficiency leads to the specific symptoms observed (see below). New thiamine phosphate derivatives have recently been discovered,[3] emphasizing the complexity of thiamine metabolism and the need for more research in the field.

Thiamine structure

 

C.  VITAMIN C (ASCORBIC ACID)

Vitamin C or L-ascorbic acid or L-ascorbate is an essential nutrient for humans and certain other animal species, in which it functions as a vitamin. In living organisms, ascorbate is an anti-oxidant, since it protects the body against oxidative stress.[1] It is also a cofactor in at least eight enzymatic reactions, including several collagen synthesis reactions that cause the most severe symptoms of scurvy when they are dysfunctional.[2] In animals, these reactions are especially important in wound-healing and in preventing bleeding from capillaries.

Vitamin C is purely the L-enantiomer of ascorbate; the opposite D-enantiomer has no physiological significance. Both forms are mirror images of the same molecular structure. When L-ascorbate, which is a strong reducing agent, carries out its reducing function, it is converted to its oxidized form, L-dehydroascorbate.[2] L-dehydroascorbate can then be reduced back to the active L-ascorbate form in the body by enzymes and glutathione.[12] During this process semidehydroascorbic acid radical is formed. Ascorbate free radical reacts poorly with oxygen, and thus, will not create a superoxide. Instead two semidehydroascorbate radicals will react and form one ascorbate and one dehydroascorbate. With the help of glutathione, dehydroxyascorbate is converted back to ascorbate.[13] The presence of glutathione is crucial since it spares ascorbate and improves antioxidant capacity of blood.[14] Without it dehydroxyascorbate could not convert back to ascorbate.

 

Ascorbic acid structure

 

D.  VITAMIN D

Vitamin D is a group of fat-soluble secosteroids, the two major physiologically relevant forms of which are vitamin D2 (ergocalciferol) and vitamin D3 (cholecalciferol). Vitamin D without a subscript refers to either D2 or D3 or both. Vitamin D3 is produced in the skin of vertebrates after exposure to ultraviolet B light from the sun or artificial sources, and occurs naturally in a small range of foods. In some countries, staple foods such as milk, flour and margarine are artificially fortified with vitamin D, and it is also available as a supplement in pill form.[2] Food sources such as fatty fish, eggs, and meat are rich in vitamin D and are often recommended for consumption to those suffering vitamin D deficiency.[3]

Several forms (vitamers) of vitamin D have been discovered (see table). The two major forms are vitamin D2 or ergocalciferol, and vitamin D3 or cholecalciferol. These are known collectively as calciferol.[6] Vitamin D2 was chemically characterized in 1932. In 1936 the chemical structure of vitamin D3 was established and resulted from the ultraviolet irradiation of 7-dehydrocholesterol.[7]

Chemically, the various forms of vitamin D are secosteroids; i.e., steroids in which one of the bonds in the steroid rings is broken.[8] The structural difference between vitamin D2 and vitamin D3 is in their side chains. The side chain of D2 contains a double bond between carbons 22 and 23, and a methyl group on carbon 24.

Vitamin D2 (made from ergosterol) is produced by invertebrates, fungus and plants in response to UV irradiation; it is not produced by vertebrates.[9] Little is known about the biologic function of vitamin D2 in nonvertebrate species. Because ergosterol can more efficiently absorb the ultraviolet radiation that can damage DNA, RNA and protein it has been suggested that ergosterol serves as a sunscreening system that protects organisms from damaging high energy ultraviolet radiation.

 

Vitamin D5 structure

 

E.   VITAMIN B2 (RIBOFLAVIN)

Riboflavin (E101 food color[1]), also known as vitamin B2, is an easily absorbed micronutrient with a key role in maintaining health in humans and animals. It is the central component of the cofactors FAD and FMN, and is therefore required by all flavoproteins. As such, vitamin B2 is required for a wide variety of cellular processes. It plays a key role in energy metabolism, and for the metabolism of fats, ketone bodies, carbohydrates, and proteins.

Milk, cheese, leafy green vegetables, liver, kidneys, legumes, tomatoes, yeast, mushrooms, and almonds[2] are good sources of vitamin B2, but exposure to light destroys riboflavin.

The name “riboflavin” comes from “ribose” (the sugar which forms part of its structure, which in turn is a transposition of arabinose[3]) and “flavin“, the ring-moiety which imparts the yellow color to the oxidized molecule (from Latin flavus, “yellow”). The reduced form, which occurs in metabolism, is colorless.

Riboflavin is best known visually as the vitamin which imparts the orange color to solid B-vitamin preparations, the yellow color to vitamin supplement solutions, and the unusual fluorescent yellow color to the urine of persons who supplement with high-dose B-complex preparations (no other vitamin imparts any color to urine).

 

Riboflavin structure

F.   VITAMIN E (TOCOPHEROL)

Vitamin E is a generic term for tocopherols and tocotrienols.[1] Vitamin E is a family of α-, β-, γ-, and δ- (respectively: alpha, beta, gamma, and delta) tocopherols and corresponding four tocotrienols. Vitamin E is a fat-soluble antioxidant that stops the production of reactive oxygen species formed when fat undergoes oxidation.[2][3][4] Of these, α-tocopherol (also written as alpha-tocopherol) has been most studied as it has the highest bioavailability.[5]

α-Tocopherol

It has been claimed that α-tocopherol is the most important lipid-soluble antioxidant, and that it protects cell membranes from oxidation by reacting with lipid radicals produced in the lipid peroxidation chain reaction.[3][6] This would remove the free radical intermediates and prevent the oxidation reaction from continuing. The oxidised α-tocopheroxyl radicals produced in this process may be recycled back to the active reduced form through reduction by other antioxidants, such as ascorbate, retinol or ubiquinol.[7] However, the importance of the antioxidant properties of this molecule at the concentrations present in the body are not clear and it is possible that the reason why vitamin E is required in the diet is unrelated to its ability to act as an antioxidant.[8] Other forms of vitamin E have their own unique properties. For example, γ-tocopherol (also written as gamma-tocopherol) is a nucleophile that can react with electrophilic mutagens.[5]

However, the roles and importance of all of the various forms of vitamin E are presently unclear,[9][10] and it has even been suggested that the most important function of vitamin E is as a signaling molecule, and that it has no significant role in antioxidant metabolism.[11][12]

So far, most studies about vitamin E have supplemented using only alpha-tocopherol, but doing so leads to reduced serum gamma- and delta-tocopherol concentrations. Moreover, a 2007 clinical study involving alpha-tocopherol concluded that supplementation did not reduce the risk of major cardiovascular events in middle aged and older men.[13] For more information, read article tocopherol.

 

Tocopherol structure

 

G.  VITAMIN B12  (COBALAMIN)

Vitamin B12, vitamin B12 or vitamin B-12, also called cobalamin, is a water soluble vitamin with a key role in the normal functioning of the brain and nervous system, and for the formation of blood. It is one of the eight B vitamins. It is normally involved in the metabolism of every cell of the human body, especially affecting DNA synthesis and regulation, but also fatty acid synthesis and energy production. As the largest and most structurally complicated vitamin, it can be produced industrially only through bacterial fermentation-synthesis.

Vitamin B12 consists of a class of chemically-related compounds (vitamers), all of which have vitamin activity. It contains the biochemically rare element cobalt. Biosynthesis of the basic structure of the vitamin in nature is only accomplished by simple organisms such as some bacteria and algae, but conversion between different forms of the vitamin can be accomplished in the human body. A common synthetic form of the vitamin, cyanocobalamin, does not occur in nature, but is used in many pharmaceuticals and supplements, and as a food additive, because of its stability and lower cost. In the body it is converted to the physiological forms, methylcobalamin and adenosylcobalamin, leaving behind the cyanide, albeit in minimal concentration. More recently, hydroxocobalamin (a form produced by bacteria), methylcobalamin, and adenosylcobalamin can also be found in more expensive pharmacological products and food supplements. The utility of these is presently debated.

Vitamin B12 was discovered from its relationship to the disease pernicious anemia, which is an autoimmune disease that destroys parietal cells in the stomach that secrete intrinsic factor. Intrinsic factor is crucial for the normal absorption of B12, so a lack of intrinsic factor, as seen in pernicious anemia, causes a vitamin B12 deficiency. Many other subtler kinds of vitamin B12 deficiency and their biochemical effects have since been elucidated.

 

Cobalamin structure

 

H.  VITAMIN K

Vitamin K is a group of lipophilic, hydrophobic vitamins that are needed for the posttranslational modification of certain proteins, mostly required for blood coagulation but also involved in metabolism pathways in bone and other tissue. They are 2-methyl-1,4-naphthoquinone derivatives.

Vitamin K1 is also known as phylloquinone or phytomenadione (also called phytonadione). Vitamin K2 (menaquinone, menatetrenone) is normally produced by bacteria in the large intestine,[1] and dietary deficiency is extremely rare unless the intestines are heavily damaged, are unable to absorb the molecule, or are subject to decreased production by normal flora, as seen in broad spectrum antibiotic use.[2]

There are three synthetic forms of vitamin K, vitamins K3, K4, and K5, which are used in many areas including the pet food industry (vitamin K3) and to inhibit fungal growth (vitamin K5).[3]

The function of vitamin K in the cell is to convert glutamate in proteins to gamma-carboxyglutamate (gla).

 

 

 

I.     VITAMIN B5 (PANTOTHENIC ACID)

Pantothenic acid, also called pantothenate or vitamin B5 (a B vitamin), is a water-soluble vitamin. For many animals, pantothenic acid is an essential nutrient. Animals require pantothenic acid to synthesize coenzyme-A (CoA), and well as to synthesize and metabolize proteins, carbohydrates, and fats.

Pantothenic acid is the amide between pantoate and beta-alanine. Its name derives from the Greek pantothen (πάντοθεν) meaning “from everywhere” and small quantities of pantothenic acid are found in nearly every food, with high amounts in whole-grain cereals, legumes, eggs, meat, and royal jelly. It is commonly found as its alcohol analog, the provitamin panthenol, and as calcium pantothenate. Pantothenic acid is an ingredient in some hair and skin care products.

Pantothenic acid is used in the synthesis of coenzyme A (CoA). Coenzyme A may act as an acyl group carrier to form acetyl-CoA and other related compounds; this is a way to transport carbon atoms within the cell.[3] CoA is important in energy metabolism for pyruvate to enter the tricarboxylic acid cycle(TCA cycle) as acetyl-CoA, and for α-ketoglutarate to be transformed to succinyl-CoA in the cycle.[4] CoA is also important in the biosynthesis of many important compounds such as fatty acids, cholesterol, and acetylcholine.[4] CoA is incidentally also required in the formation of ACP[5], which is also required for fatty acid synthesis in addition to CoA.

 

 

Pantothenic acid structure

 

 

 

J.     VITAMIN B7 (BIOTIN)

Biotin is a water-soluble B-complex vitamin (vitamin B7) that is composed of an ureido (tetrahydroimidizalone) ring fused with a tetrahydrothiophene ring. A valeric acid substituent is attached to one of the carbon atoms of the tetrahydrothiophene ring. Biotin is a coenzyme in the metabolism of fatty acids and leucine, and it plays a role in gluconeogenesis.

Biotin D(+) is a cofactor responsible for carbon dioxide transfer in several carboxylase enzymes:

and, so, is important in fatty acid synthesis, branched-chain amino acid catabolism, and gluconeogenesis. Biotin covalently attaches to the epsilon-amino group of specific lysine residues in these carboxylases. This biotinylation reaction requires ATP and is catalyzed by holocarboxylase synthetase.[5] The attachment of biotin to various chemical sites can be used as an important laboratory technique to study various processes including protein localization, protein interactions, DNA transcription and replication. Biotinidase itself is known to be able to biotinylate histone proteins,[6] but little biotin is found naturally attached to chromatin.

Biotin binds very tightly to the tetrameric protein avidin (also streptavidin and neutravidin), with a dissociation constant Kd in the order of 10−15, which is one of the strongest known protein-ligand interactions, approaching the covalent bond in strength.[7] This is often used in different biotechnological applications. Until 2005, very harsh conditions were required to break the biotin-streptavidin bond.

Biotin structure

K.  VITAMIN B6 (PYRIDOXINE)

Vitamin B6 is a water-soluble vitamin and is part of the vitamin B complex group. Several forms of the vitamin are known, but pyridoxal phosphate (PLP) is the active form and is a cofactor in many reactions of amino acid metabolism, including transamination, deamination, and decarboxylation. PLP also is necessary for the enzymatic reaction governing the release of glucose from glycogen.

Seven forms of this vitamin are known:

Pyridoxine structure

 

L.   VITAMIN B3 (NIACIN)

Niacin (also known as vitamin B3, nicotinic acid and vitamin PP) is an organic compound with the formula C6H5NO2 and, depending on the definition used, one of the forty to eighty essential human nutrients. This colorless, water-soluble solid is a derivative of pyridine, with a carboxyl group (COOH) at the 3-position. Other forms of vitamin B3 include the corresponding amide, nicotinamide (“niacinamide”), where the carboxyl group has been replaced by a carboxamide group (CONH2), as well as more complex amides and a variety of esters. The terms niacin, nicotinamide, and vitamin B3 are often used interchangeably to refer to any member of this family of compounds, since they have the same biochemical activity.

Niacin cannot be directly converted to nicotinamide, but both compounds could be converted to NAD and NADP in vivo. Although the two are identical in their vitamin activity, nicotinamide does not have the same pharmacological effects as niacin, which occur as side effects of niacin’s conversion. Nicotinamide does not reduce cholesterol or cause flushing.[1] Nicotinamide may be toxic to the liver at doses exceeding 3 g/day for adults.[2] Niacin is a precursor to NAD+/NADH and NADP+/NADPH, which play essential metabolic roles in living cells.[3] Niacin is involved in both DNA repair, and the production of steroid hormones in the adrenal gland.

Niacin is one of five vitamins associated with a pandemic deficiency disease:

 

Niacin structure

M. VITAMIN B9 (FOLIC ACID)

Folic acid (also known as vitamin B9[1] or folacin) and folate (the naturally occurring form), as well as pteroyl-L-glutamic acid and pteroyl-L-glutamate, are forms of the water-soluble vitamin B9. Folic acid is itself not biologically active, but its biological importance is due to tetrahydrofolate and other derivatives after its conversion to dihydrofolic acid in the liver.[2]

Vitamin B9 (folic acid and folate inclusive) is essential to numerous bodily functions ranging from nucleotide biosynthesis to the remethylation of homocysteine. The human body needs folate to synthesize DNA, repair DNA, and methylate DNA as well as to act as a cofactor in biological reactions involving folate.[3] It is especially important during periods of rapid cell division and growth. Children and adults both require folic acid in order to produce healthy red blood cells and prevent anemia.[4] Folate and folic acid derive their names from the Latin word folium (which means “leaf”). Leafy vegetables are a principal source, although, in Western diets, fortified cereals and bread may be a larger dietary source.

 

Folic acid structure

CHAPTER III

CONCLUSION

A vitamin is an organic compound required as a nutrient in tiny amounts by an organism.

Vitamins are classified by their biological and chemical activity, not their structure.

Vitamins are very important for our body. There’re 13 vitamins that can we find in nature.

1.      Vitamin A (retinol)

2.      Vitamin B1 (thiamine)

3.      Vitamin C (ascorbic acid)

4.      Vitamin D (calciferol)

5.      Vitamin B2 (riboflavin)

6.      Vitamin E (tocopherol)

7.      Vitamin B12 (cobalamin)

8.      Vitamin K

9.      Vitamin B5 (pantothenic acid)

10.  Vitamin B7 (biotin)

11.  Vitamin B6 (pyridoxine)

12.  Vitamin B3 (niacin)

13.  Vitamin B9 (folic acid)

 

BY:

ANITA SUKARINI (K3308028)

BETA WULAN FEBRIANA (K3308030)

AI SRIWENDA RAHMAN (K3308067)

Posted in biokimia | Leave a comment